KERAJAAN WENGKER PADA JAMAN MAJAPAHIT

Di atas telah disinggung tentang perjalanan sejarah Wengker pada jaman Mpu Sindok. Dharmawangsa serta pada jaman pemerintahan Airlangga walaupun hanya selintas dan nampak terputus-putus, telah memberi gambaran bahwa sebenarnya eksistensi Wengker tetap ada dengan pasang surutnya. Bahkan dapat dikatakan sejak jaman Airlangga dulu tidak terdapat peperangan atau persengketaan di Wengker. Dengan kata lain termasuk tenteram, demikian menurut babad Ponorogo

Pada masa-masa itulah justru Wengker menata diri, walaupun sebenarnya sepeninggal Airlangga di luar Wengker selalu terjadi perselisihan dan perebutan kekuasaan atau tahta kerajaan. Demikian pula yang terjadi pada awal dan akhir Majapahit

Di atas telah disinggung bahwa setelah kerajaan Airlangga terbagi menjadi dua yaitu kediri/Panjalu dan Jenggala, situasi sudah tidak stabil, kesempatan ini dipergunakan oleh Wengker untuk menyusun kekuatan baru sehingga sampai dengan jaman Majapahit nama wengker tetap masih ada dan jaya, justru terjalin hubungan yang saling menguntungkan.

Beberapa peristiwa penting yang membawa kehormatan dan kebesaran peranan Wengker di jaman Majapahit di antaranya :

Pertama: Perkawinan Bhre Wengker/Raden Kudamerta/Wijayarajasa dengan Adik Tribuwana yang menjadi Bhre dengan nama Raja Dewi Maharajasa kawin dengan Kudamerta yang menjadi Bhre Wengker dengan nama Wijayarajasa…………………….

Hal ini berarti Wijayarajasa itu menantu Raden Wijaya

Beberapa peran yang menonjol dari wijayarajasa :

a. Kudamerta/Wijayarajasa dan Raja Dewi Maharajasa hadir dalam musyawarah pengangkatan calon pengganti Patih Gajah Mada, diantara delapan tokoh yang diundang pada tahun1364 M

b. Diangkatnya menjadi anggota Dewan Sapta Prabu

c. Anggota Dewan Pertimbangan Agung pada tahun 1351 M

d. Berani dan mampu mengambil sikap tegas terhadap kesalahanyang dilakukan Gajah Mada atas peristiwa Bubat

e. Mendapat penghargaan/piagam pembangunan bersama dengan Dyah Maharajadewi dari Kepala Negara Tribuwana Tunggadewi 9

Kedua : Perkawinan Hayam Wuruk Bhre Hyang Wekas ing Sukha/Rajasanegara dengan paduka Sori/Putri Wijayarajasa/Raden Kudamerta/Bhre Wengker pada tahun 1357 M

Schrieke menyatakan “ Hayam Wuruk kurang lebih 1357 M mengawini Susumma dewi alias Paduka Sori ( Anak perempuan Wijayarajasa Raja Wengker, yang juga paman Hayam Wuruk ). Jadi pada jaman Hayam Wuruk peranan Wengker begitu besar dengan rajanya Wijayarajasa……………………………..10

Dalam buku SNI jilid II halaman 437 disebutkan

Berhubung dengan meninggalnya Putri Sunda dalam peristiwa di Bubat Hayam wuruk kawin dengan Paduka Sori anak Bhre Wengker Wijayarajasa, Bibi Hayam Wuruk…………………11

Peristiwa tersebut merupakan perkawinan keluarga karena saudara sepupu, Ibu Hayam Wuruk ( Tribuwana Tunggadewi ) adalah kakak perempuan Ibu Paduka Rajadewi Maharajasa/Bhre Dhaha

Hyam Wuruk dan Paduka Sori keduanya cucu Raden Wijaya ( Kertarajasa Jayawardana )

Peristiwa tersebut dapat menutup aib dan rasa malu jatuhnya Prestise Majapahit di masa Nusantara ( Politik Nusantara ) karena peristiwa perang Bubat

Ketiga : Setelah interregnum/ kekosongan kekuasaan tiga tahun lamanya pada tahun : 456 M tampillah Dyah Suryawikrama Girishawardana menaiki tahta kerajan Majapahit. Ia adalah salah seorang anak Dyah Kertawijaya semasa pemerintahan ayahnya menjadi Raja daerah Wengker. ( Bathara ing Wengker ). Didalam paraton ia disebutkan dengan nama gelarnya Bhre Hyang Purwawisesa dan memerintah selama sepuluh tahun dari 1456-1466 Masehi

Apakah Wijayarajasa itu Bhre Wengker ?

Benar, Wijayarajasa itu adalah Bhre Wengker atau Raden Kumadetta yang menjadi raja yang berkedudukan di Wengker dan berperan di Majapahit

Hal itu terbukti dari kitab Negara Kertagama yang menyebutkan Priya Haji Sang Umunggu I Wemgker bangun Hyang Upandrannun ( Napari Wijayarasa popamana parama-ajnottama 12

Dalam hal ini Negara kertagama menunjukkan bahwa yang membangun kerajaan adalah Wijayarajasa sebagi raja pertama

Disini terdapat perbedaan yakni tentang persamaan nama. Pada jaman Airlangga. Raja Wengker bernama Wijaya sampai pada jaman majapahit ( Hayam Wuruk ) masih disebut Wijayarajasa

Atau mungkin untuk Wengker memang rajanya disebut Wijaya, sama halnya dengan Majapahit yang menggunakan nama Brawijaya sejak dari pertama sampai penghabisan 13

Masih ada sumber lain yakni Pararaton yang menceritakan bahwa Raden Kudamerta kawin denga Bhre Dhaha. Raden Kudamerta di Wengker dengan nama Bhre Parameswara dari Pamoran yang dikenal dengan nama Wijayarajasa. Juga diterangkan bahwa Bhre Parameswara dari Pamoran meninggal dunia tahun 1310 Saka dan dimakamkan di Manar dengan nama Wisnubhawana. Kalau mengingat sumber paraton yang menyebutkan Bhre Parameswara yang juga disebut Wijayarajasa meninggal tahun 1380 M jelas menunjukkan bahwa yang dimaksud Wijayarajasa pada jaman pemerintahan Hayam wuruk

Sebagaimana disebutkan di atas bahwa perkawinan Hayam wuruk dengan putra raja Wengker berlangsung tahun 1357. jadi, ia meninggal 31 tahunsetelah mengawinkan anaknya 14

Masalah Perkawinan

Sekarang timbul pertanyaan, apakah perkawinan itu perkawianan politik atau perkawianan keluarga ? Dr. N.J Krom mengemukakan bahwa untuk pergi ke Bubad disamakan dengan pendapat Wengker. Seperti telah diketahui bahwa perang Bubad terjadi sebagai akibat perkawinan politik yakni salah satu cara dari kerajaan Majapahit untuk menakhlukkan kerajaan bawahan di sekitarnya

Kalau yang dimaksud oleh Dr. N.J Krom init tentang perkawinan politik, menunjukakan bahwa pada zaman pemerintahan Hayam Wuruk Wengker menjadi kekuasaannya Wengker saat itu masih cukup kuat

Pendapat Dr. Th Pigeud yang mendasarkan pendapatnya pada kitab Negarakertagama sebagai berikut : Dengan membandingkan dua kekuasaan yang cukup kuat yang sangat menarik yakni antara Wengker. Dhaha dianggap sebagai bulan dan Majapahit. Singasari sebagai Matahari. Pemerintahan bulan di atas bintang dan planet, sedangkan matahari, sebagiai pancaran sinar keseluruhan. Majapahit sebagai pusat pemerintahan juga memperhatikan terhadap saingannya. Inilah perbandingan yang menarik dualisme Jawa = bulan dan matahari

Menurut Dr. Th Pigeud Wengker-Dhaha dianggap sebagai rivalnya (saingannya) kondisinya saat itu masih cukup kuat

Prof. Moh Yamin di dalam melukiskan kebenaran Batari Wengker ini, mengubah dalam sajaknya sebagai berikut :

Bathara Wengker

( selanjutnya perintah sang Prabu diiringi pula oleh perintah Seri Paduka Bathara Wengker )

Nan terbantu oleh keberanian yang dimilikinya dan yang dimuliakan oleh mereka yang mempunyai sifat-sifat yang baik

Yang bersifat baik terutama tentang kebijaksanaannya yang diperbuat oleh tingkah lakunya sendiri

Nan berhati sanubari melebihi indahnya hal berbicara atas nama orang yang beriman

Nan hati sanubarinya terpisah dari kesombongan dan kecelakaan

Nan diketahui kebesarannya luar biasa jadi terpujilah oleh rakyat orang baik-baik sehingga menjadi girang gembira

Nan bertugas kewajiban sendiri, yang tak diabaikan karena mereka diarahkan supaya memperkuat garis turunnya sendiri

Nan bertegak gelar kerajaan berbunyi Grisyawardhana dan bernama kecil berbunyi Dyah Suryawikrama

Mengingat tahun 1447 mungkin yang dimaksud Bathara Wengker adala Grisyawardhana kalau itu benar, saat terjadi perang paregreg Wengker sudah berdiri belakangnya. Jadi, menurut Pararaton yang sanggup memerintah tahun 1378 Saka sampai 1388 Saka adalah Bhre Wengker dengan nama Bhara Hyang Purwawisesasa sampai disini Wengker masih disebut-sebut

Selanjutnya menurut Pararaton : Raja Majapahit sesudah Bhre Hyang Purwawisesa ialah Bhre Pandan Salas memerintah-tahun 1388 Saka atau 1466 M sampai dengan tahun 1390 Saka atau tahun 1486 M, yang diganti oleh Raja Kertabumi, ayah Raden Patah

PONOROGO JAMAN KESULTANAN DEMAK BINTORO

Setelah pemerintahan pusat majapahit lemah sekali Bandar-bandar di pesisir Jawa seperti Demak, Jepara, Tuban, Gresik dan Surabaya memerdekakan diri dari Majapahit. Bandar-bandar timbul/ berkembang menjadi kerajan-kerajaan kecil, berkat hubungan langsung yang erat dengan Malaka yang lambat laun para pengusaha Bandar-bandar itu lalu menganut islam

Kerajaan-kerajaan kecil pesisir Jawa tersebut dapat berkembang menjadi Negara besar ialah Demak. Ketika diperintah oleh Raden Patah sekitar awal XVI, Demak dapat menguasai kota-kota pesisir yang lain seperti Lasem, Tuban, Gresik, dan Sedayu. Raden Patah diakui sebagai pemimpin kota-kota dagang pesisir dengan gelar Sultan. Dari Demak agama islam disebarkan keseluruh jawa bahkan keluar Jawa 17

Siapa Raden Patah itu dapat diketahui dari beberapa sumber antara lain menyebutkan raja-raja Demak menyatakan dirinya sebagai keturunan Prabu Brawijaya Raja majapahit

Demikian pula di dalam Purwaka Caruban Nagari disebutkan dengan jelas bahwa Raden Patah pendiri dan Sultan pertama Demak adalah anak Prabu Brawijaya Kertabumi 18

Raden Patah itu menurut Tome adalah pendiri Demak adalh disebut Pata Rodin 19

Babad tanah Jawi menyebutkan pendiri demak adalah Raden Patah seperti kutipan ini :

  1. Risang poetri patoetan kekalih, samya dijaole oambayoene iko. Raden Patah Djoedjoeloeke, nenggih bebekanipun, saking Prabu ing Mahospait, kala ngidam kaworan, pinisah karoehoen, siro sang poatri ing tjino, patoetane lan aryo Damar satoenggil, Raden Koesen kang nama

58. “ Aryo Damar sigro deniro angling. Keh sang Prameswari soetaniro panenggih ing tembe, pasti djoemeneng ratoe Raden Patah ana ing Djawi poerwa raja kang islam. Simeng Majalangoe. Raja kapir kang ginanyan mengkweng Djawi sineba ing para Adji, DJawa tanpa sisingan.22

Dari Babad Tanah Jawi disimpulkan sebagai berikut :

Raden Patah adalah Putra Prabu Majapahit dengan Putri Cina yang pada waktu hamil muda diberikan kepada Aryo Damar, setalah lahir bayi itu di beri nama Raden Patah. Jadi, darah yang menurun kepada Raden Patah adalah Prabu Majapahit

Prabu Majapahit yang mempunyai istri Cina adalah Brawijaya terakhir. Arya Damar menyatakan kepada permaisurinya bahwa putranya yakni Raden Patah akan menjadi raja islam pertama di Jawa. Yang kita ketahui bahwa kerajaan islam yang pertam di Jawa adalah Demak, maka jelas Raden Patah adalah Raden Demak

Pada saat Raden Patah menginjak dewasa kerajaan Hindu Majapahit telah mulai runtuh yang disebabkan oleh perlawanan kaum bangsawan yang telah mendirikan kota di pantai utara dan mendapat bantuan islam. Kesempatan ini dipergunakan Raden Patah untuk menemui Raden Rahmat. Raden Patah mengutarakan beberapa hal mengenai Majapahit yang telah lemah. Raden Patah tinggal pada Raden Rahmat. Untuk belajar beberapa hal dan setelah cukup diberi kedudukan di Bintoro 21

Kemudian Bintoro dikembangkan atas dasar islam. Mendengar hal itu raja Majapahit Brawijaya memanggil Raden Patah untuk diangkat Mangkubumi di Bintoro. Raden Patah memperkuat kedudukan Bintoro, berkat bantuan para wali berkembang menjadi kerajan islam pertam di jawa dengan nama Demak, rajanya Raden Patah dengan gelar panembahan Djimbun 22

Dalam babad Tanah Jawi disebut peran Raden Rahmat atau Sunan Ampel sebagai berikut :

15. Angoiko soesoenan ing Ngampel denito poetoe ngong kidipatoes madega nata iyo ing tanah jawa pan siro kang doewe waris koeto ing Demak iku kakim prayogi

20. Moermawarno siro ratoe mangoen islam nama asinopati boen ngabdir rahman, panembahan palembang Syayidin panaragama pamoerwardi nan, ing sarak kanjeng nabi 23

Dari beberapa sumber di atas jelas bahwa raden Patah kemudian menjadi raja islam demak tetapi rupanya saat munculnya Demak majapahit sudah mengalami masa krisis hingga yang terjadi Brawijaya telah diganti/direbut oleh Girindrawardana yang bukan anaknya sendiri. Melihat kekacauan ini Raden Patah tidak berkenan karena Majapahit dikuasai keturunan lain yang tidak berhak atas tahta kerajaan 24

Sebenarnya pada jaman pemerintahan Brawijaya raja Majapahit terakhir ( ayah raden Patah ) telah memberi daerah lungguh ( wilayah kekuasaan ) kepada Raden Patah yang kelak berkembang menjadi kerajaan Demak. Lain halnya yang terjadi dengan Raden Katong yang saat itu belum mempunyai daerah lungguh bahkan masih di daerah naungan Brawijaya. Pada suatu saat Brawijaya tahu bahwa sebelah timur Gunung Lawu dan sebelah barat Gunung Wilis ada seorang Demang dari Desa Kutu yang tidak mau dating Ke Majapahit maka Bathoro Katong disuruh mendatangkan Demang dari Kutu tersebut ke Majapahit 25

1 Komentar »

  1. einzthr33 Said:

    Kabupaten Ponorogo adalah sebuah kabupaten di provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Magetan dan Kabupaten Madiun di utara, Kabupaten TulungagungKabupaten Trenggalek di timur, Kabupaten Pacitan di barat daya, serta Kabupaten Wonogiri dan (Jawa Tengah) di barat. Ponorogo memiliki luas wilayah 1.371,78 km².


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: